Pendekatan Saintifik dalam perspektif al Quran



PENDEKATAN SAINTIFIK  DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN
Soleh Baedowi[i]

Abstrak
Pendekatan Saintifik sangat familier bersamaan dengan munculnya kurikulum 2013. Sainitifik memberikan kekhasan terhadap lahirnya kurikulum yang berbasis active learning ini. Pendekatan ini  digadang-gadang menjadi satu pendekatan yang paling tepat terhadap proses pembelajaran pada kurilukum 2013, sehingga tak heran setiap kegiatan sosialisasi, palatihan, workshop, simposium, atau apa pun kegiatannya yang berorientasi pada kurikulum baru  tersebut saintifik salalu melekat untuk dihafal dan disimulasikan dalam pembelajaran.
Pendekatan saintifik meliputi lima proses yaitu mengamati (observing), Menanya (questioning), mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting), Menalar/Mengasosiasi (associating), mengomunikasikan (communicating). Pada tahun 2016 ini pendekatan saintifik bukan satu-satunya pendekatan dalam pembelajaran kurikulum 2013, tetapi langkah-langkah ini cukup melekat bagi para guru. Penulis mencoba menulusuri kembali dengan melihat nilai-nilai pada saintifik yang terdapat dalam al Quran disertai inovasi pembelajaran yang tepat dalam setiap tahapannya.  
Kayword: Saintifik, al Quran, Inovasi Pembelajaran

A.    Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk Allah yang terus mengalami perubahan. Perubahan yang signifikan adalah perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Sebagai seorang pendidik tentu tak hanya menjadi penonton tapi sudah menjadi kewajiban untuk merubah dirinya dalam perkembangan IPTEK tersebut. Guru harus menjadi actor perubahan dengan memanfaatkan teknologi dalam bentuk menciptakan inovasi pembelajaran yang semakin menarik. Jika tidak demikian maka pendidikan yang semestinya menjadi agen perubahan terhadap kemajuan dan perkembangan teknologi akan tertinggal.
Guru yang setiap harinya berinteksi dengan siswa harus memiliki kekuatan untuk sadar dan menyadari bahwa inovasi pembelajaran adalah sebuah keharusan. Guru dituntut untuk terus berinovasi untuk menyesuaikan kebutuhan siswa sesuai dengan kekinian. Berinovasi dalam proses pembelajaran dapat diartikan bahwa guru tarus berupaya menciptakan model-model baru yang dikenal dengan istilah inventional discovery yang bertujuan memberikan kemudahan dalam pencapaian tujuan[1].
Islam mengajarkan manusia untuk terus berubah, terus mengembangan kemampuan untuk menyesuiakan kebutuhan zaman. Karena zaman terus mengalami perubahan maka manusia dituntut untuk berinovasi, berkarya untuk diri dan masyarakat. Al Quran secara tegas menyebutkan dalam surah ar-Ra’du ayat 11”
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,…” (QS: ar Ra’du:11)
Atas dasar inilah guru harus memiliki kemauan merubah dirinya untuk menggali model-model pembelajaran  sehingga tercipta metode dan teknik pembelajaran baru yang membuat  siswa semakin tertarik dan tidak mengalami kejenuhan, bosan, ataupun malas dalam menggali ilmu pengetahuan. Diharapkan dengan menggunakan inovasi yang terbaru siswa akan mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal.
B.     Pembahasan
Pembelajaran sainifik merupakan proses pembelajaran yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkorfirmasi.
Mengamati
Wahyu pertama yang diturunkan merupakan bukti nyata bahwa manusia harus melakukan proses pembelajaran. Kata “ اقرأ  “ pada ayat ini menunjukan arti menghimpun yang dapat diartikan membaca.[2] Makna yang terkandung dalam membaca adalah bagian dari dari proses menyerap ilmu pengetahuan. Dalam pembelajaran scientific, membaca merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran inti, yang masuk  dalam rangkain kegiatan mengamati.
Makna yang terkandung dalam membaca pada ayat satu tersebut memiliki aneka ragam arti, yaitu menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengatahui ciri-ciri.[3]  Makna makna yang terkandung dalam bacaan tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh manusia agar memperoleh pengetahuan. Pernyataan ini juga memperkuat bahwa pada hakekatnya untuk mendapatkan pengetahuan manusia harus mengalami sebuah proses pembelajaran memalaui kegiatan membaca.
Kegiatan membaca merupakan cara untuk menggali informasi dari berbagai sumber ilmu pengetahuan yang telah Allah berikan kepada manusia. Kata “اقرأ  “ pada ayat 1 dan 3 yang teradapat dalam surat al ‘alaq tidak diikuti oleh objek bacaan, oleh karena itu jika dicermati maka objek membaca pada ayat-ayat tersebut merupakan sesuatu yang bersumber dari Tuhan (al-Quran atau kitab suci sebelumnya) seperti yang terkandung dalam QS 17: 45 dan QS 10: 94, dan juga yang bersumber bukan dari kitab suci melainkan himpunan dari karya manusia seperti yang terlihat dalam QS 17:14.[4]
Proses pembelajaran diawali dari hal yang sederhana yaitu mengamati, hal ini sebegaimana pernah dilakukan oleh nabiullah Ibrahim as ketika menemukan Tuahannya. Di awali dengan melihat bintang-bintang yang indah, lalu rembulan yang menawan, kemudian matahari yang menakjubkan, kemudian menyimpulkan ada sesuatu yang maha besar dibalik keindahan ciptaanya, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS 6:79). Proses pembelajaran yang dilakukan nabi Ibrahim sejalan dengan proses dalam pembelajaran yang diawali denan kegiatan mengamati. Dalam kegiatan mangamaati ini nabi ibrahim memperhatikan, melihat, memperhatikan ciptaanya, kemudian menganalisis lalu disimpulkan. Pembelajran yang dilakukan sebagai contoh diatas merupakan proses yang menghasilkan pengetahuan kemdian diaplikasikan dalam bentuk praktik atau perbuatan.
              Bertanya
Proses yang sangat menarik dalam pembelajaran adalah bertanya. Secara khusus  al Quran menganjurkan kepada pembelajar untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (Q.S 41:10.) Keluasan pengetahun diawali dengan diri untuk terus berupaya menambah wawasan dengan bertanya. Bertanya memberikan stimulus kepada pembelajar untuk mengumpulkan informasi terkait dengan pengetahuan. Pengetahuan yang bersumber dari beberapa jawaban akan memperluas wawasan berfikir, sehingga dirinya menyadari bahwa kebeneran tak hanya bersumber pada satu jawaban.
Dalam proses pembelajaran bertanya adalah bagian sangat penting. Bertanya memberikan interaksi yang positif antara guru dengan peserta didik, antara peserta didik dengan peserta didik. Interaksi ini memberikan komunitas sosial dalam membentuk budaya yang baik.  Dalam hal ini al Quran memberikan batasan bahwa bertanya atau meminta jawaban harus kepada seseorang yang labih tahu, sebagaimana “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Q.S an Nahl:43).
Proses pembelajaran yang berbasis pertanyaan ini dapat dikembangakan dalam beberapa bentuk metode pembelajaran, seperti teknik tanya jawab dan metode student question[5]. Sintake teknik tanya jawab sangat mudah diterapkan. Dalam proses penyampaikan informasi tanya jawab bisa berlansung, bisa dari siswa ke guru, dari siswa ke siswa, ataupun dari guru ke siswa. Teknik ini juga memberikan manfaat untuk menstimulus siswa untuk lebih memperhatikan pada informasi yang sedang diberikan. Selain memberikan stimulus teknik tanya jawab juga dapat menjadi ice breaking yang dapat menumbuhkan konsentrasi dan focus siswa terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Student question merupakan inovasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan pembelajaran. Student  question adalah pembelajaran yang berbasis active learning dengan pertanyaan sebagai sumber belajar. Penggunakan metode Student  question bisa dalam bentuk kelompok atau individu. Namun agar lebih menarik, siswa sudah terbagi dalam kelompok belajar. Sintake pembelajaran menggunakan metode ini antara lain, Setiap kelompok/siswa  mendapatkan materi, Membaca dan menguasai materi, Setiap kelompok/ Peserta didik membuat pertanyaan dan jawaban Sesuai dengan materi, Guru membagikan lembar soal dan lembar jawaban kepada kelompok yang berbeda, Misalnya pertanyaan pada kelompok B diberikan kepada kelompok A sedangkan jawaban di berikan kepada kelompok C, peserta didik menampilkan di depan kelas untuk saling menanya dan menjawab soal yang di ajukan, guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang tampil dan memberikan pengutan terhadap materi.
             Mengasosiasikan
Proses pembelajaran berikutnya adalah mengajak peserta didik untuk berfikir yang logis dan sistematis. Siswa diajak untuk belajar berfikir kritis tidak jumud dan mengajak untuk berfikiri ilmiah berdasarkan fakta-fakta empiris. Al Quran sangat intens terhadap manusia yang berfikir, menggunakan analoginya untuk meraih pengetahuan. Secara berulang-ulang al Quran memerintahkan kepada manusia agar berfikir tentang alam raya dan fenomenanya, diri dan masyarakat[6]. “Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan …” (Q.S Saba:46).  Ayat ini mendasari bahwa Islam mewajibkan kita untuk berfikir.tentunya berfikir yang mendatangkan manfaat bukan mafsadat.
Tuntutan dalam berfikir adalah kesungguhan, tanggung jawab, dan manfaat, jika syarat ini terpenuhi dalam proses berfikir, maka apaun hasilnya Allah akan memberikan toleransi. Bahkan jika ada kekeliruan Allah tetap memberinya pahala. Begitu mulianya Allah menciptakan manusia kerana didalamnya ada kekuatan untuk berfikir. Al Quran secara tegas mencela orang-orang yang memadamkan akal dan melenyapkannya hingga tidak berfikir, memperhatikan, dan merenung serta tidak memanfaatkan alam semesta yang dianugerahkan Allah[7].
Dalam pembelajaran guru berperan memotivasi dan memberikan fasilitas untuk peserta didik agar mereka menggunakan daya fikir mereka dengan optimal. Guru berperan memberikan sajian metode yang menarik dan tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk menggali peserta didik memiliki daya nalar yang tinggi bisa menggunakan metode Mind Mapping yaitu suatu pembelajaran dengan cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran. Sintake dalam pembelajaran ini menggunakan Mind Mapping adalah peserta didik mendapat konsep disertai dengan tahapan-tahapan. Peserta didik akan menyusun berdasarkan data empiris dari pengalaman atau informasi yang mereka dapatakan.


 Mencoba
Proses pembelajaran yang berikutnya adalah tahapan mencoba (eksperimen/ experimenting) yaitu siswa  memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Mencoba adalah hal sangat menarik bagi siswa karena menjadi pengalaman pertamanya dalam tahapan kehidupan yang sebenarnya. Mencoba adalah bagian dari simulasi, menggunakan sesuatu untuk menguji, atau mengerjakan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Dalam pembelajaran ini peserta didik diajak untuk memberikan bukti dari  informasi yang didapatkan dari guru.
Al Quran secara tegas memberikan kekuatan bahwa data dan informasi yang didapatakan harus memiliki bukti outentik yang dapat dipertanggungjawabkan. Al Quran menjawab dengan bukti seperti, Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An Naba’:6-7) Allah menggunakan bumi dan gunung sebagai salah satu bukti kebenaran. Maksud hamparan adalah bumi yang diciptakan Allah sangat indah. Dan bumi ini indah dapat kita buktikan dengan paca indra kita, sungguh mankjubkan ciptakaan Allah. Begitu pula dengan gunung yang berpungsi sebagai pasak bumi. Ayat di atas memberikan arahan kepada kita agar membenarkan terhadap berita yang disampaikan malalui fenomena alam[8].
Gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan dengan ini Allah memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya.  M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa gunung memiliki jalur dan garis- garis yang terlihat berwarna putih dan ada juga yang berwarna merah[9]. Ayat ini memberikan keteladanan kepada guru dalam pembelajaran guru harus memberikan stimulus agar teori-teori  yang mereka dapatkan harus bisa dibuktikan sacara outentik.
Pembelajaran yang mengarahkan pada proses ini antara lain Group Investigation, dengan Picture and Picture, teknik kunjung karya, karya wisata dan lain-lain,  Group Investigation diartikan sebagai pelaksanaan dengan cara mencari dan menemukaninformasi (gagasan, opini, data, solusi ) dari berbagai macam sumber (buku-buku, institusi-institusi, orang-orang) didalam dan diluar kelas. Sintake Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen, Peserta didik menerima informasi maksud pembelajaran dan tugas kelompok, Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain, Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan, Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok, Peserta didik menyampaikan kesimpulan,Peserta didik menerima penguatan materi. Pembelajaran  dalam model ini peserta didik bisa juga diajak langusng ke tempat-tempat yang disesuaikan dengan teori, laboratorium ataupun perpustakaan
             Mengasosiasikan
Proses pembelajaran berikutnya adalah mengajak peserta didik untuk berfikir yang logis dan sistematis. Siswa diajak untuk belajar berfikir kritis tidak jumud dan mengajak untuk berfikir ilmiyah berdasarkan fakta-fakta empiris. Al Quran sangat intens terhadap manusia yang berfikir, menggunakan analoginya untuk meraih pengetahuan. Secara berulang-ulang al Quran memerintahkan kepada manusia agar berfikir tentang alam raya dan fenomenanya, diri dan masyarakat[10]. “Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan …” (Q.S Saba:46).  Ayat ini mendasari bahwa Islam mewajibkan kita untuk berfikir
Syarat utama dalam berfikir adalah penuh kesungguhan, tanggung jawab, dan memiliki manfaat, jika syarat ini terpenuhi dalam proses berfikir, maka apaun hasilnya Allah akan memberikan toleransi. Bahkan jika ada kekeliruan Allah tetap memberinya pahala. Begitu mulianya Allah menciptakan manusia kerana didalamnya ada kekuatan untuk berfikir. Al Quran secara tegas mencela orang-orang yang memadamkan akal dan melenyapkannya hingga tidak berfikir, memperhatikan, dan merenung serta tidak memanfaatkan alam semesta yang dianugerahkan Allah[11].
Dalam pembelajaran guru berperan memotivasi dan memberikan fasilitas untuk peserta didik agar mereka menggunakan daya fikir mereka dengan optimal. Guru berperan memberikan sajian metode yang menarik dan tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk menggali peserta didik memiliki daya nalar yang tinggi bisa menggunakan metode Mind Mapping yaitu suatu pembelajaran dengan cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran. Sintake dalam pembelajaran menggunakan Mind Mapping adalah peserta didik mendapat konsep disertai dengan tahapan-tahapan. Peserta didik akan menyusun berdasarkan data empiris dari pengalaman atau informasi yang mereka dapatakan.
Mengomunikasikan
Kegiatan pembelajaran berikutnya adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat laopran atau kesimpulan. Istilah dalam pendekatan saintifik disebut mengomunikasikan. Mengomunikasikan merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.  Kompetesi yang dikembangkan dalam tahapan mengomunikasikan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. dalam pendidikan Islam diharapkan menculnya peserta didik yang memiliki komitmen terhadap keyakinannya. Karena Pendidikan Islam bukan Islamologi melainkan menerapkan nilai-nilai Islam yang diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Keyakinan Ibrahim terhadap Tuhannya merupakan proses pembelajaran yang memberikan hasil sesuai dengan tujuan. Sebagaimana al Quran beritakan dalam Surah Fushilat:37 “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (QS Fushilat:37).
Menyiapkan generasi yang memiliki kepercayaan diri diawali pada proses pembelajaran tahapan ini. Peserta didik diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat, kesimpulan, dan tindak lanjut yang berhubungan dengan dirinya. Peran pendidik dalam tahapan ini bisa menjadi fasilitator atau motivator. Guru tidak memberikan stigma negatif terhadap apapun yang disampaikan peserta didik. Karena stigma negatif ini akan memberikan dampak murung, keputusasaan bahkan akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Pada saat ini lah peran guru berfungsi sebagai motivator yaitu memberikan semangat, memberikan spresiasi terhadapt peserta didik, memberikan komentar yang positif, memberikan penilaian, dan menumbuhkan semangat dan minat.
C.    Penutup

Berinovasi dalam pembelajaran merupakan keharusan bagi seorang guru. Guru harus terus memodifikasi metode pembelajaran agar peserta didik tidak mengalami kejenuhan dalam pembelajaran. Namun dalam memilih metode pembelajaran guru harus memperhatikan karakteristik siswa, kerekteristik tema pembelajaran, dan waktu yang tersedia.
Apapun metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip proses pembelajaran.  Prinsip-prinsip tersebut meliputi: berpusat pada siswa (student centre), belajar disertai praktik (learning by doing) menuju proses pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kompetensi sosial (learning to live together), mengembangkan keingintahuan dan imajinasi, mengembangkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah (scientific problem solving).

DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, Ahmad, Tafsir Salman: Tafsir Ilmiyah Juz Amma, Bandung: Mizan Media Utama
Devi, Shakuntala, Jadikan Anak Jenius, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011
Karjono, Moehari, Mempersiapkan generasi Ceras tuntunan dalam Mendidik dan mempersiapkan anak cerdas dan berakhlak islami, Jakarta: Qisthi Press
Muhamad, Mushlih, Kecerdasan Emosi Menurut Al Quran, Jakarta: Akbar Media
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam upaya Mengoptimalkan Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012
Shoimin, Aris, 68 Model Pembelajaran Inovasi dalam Kurikulum 2013, Yogyakarya:Ar-Ruzz Media, 2014
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, V0l. 15, Jakarta: Lentera Hati, 2002
________________, Membumikan Al Quran fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1993, hal.168
________________, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran, Bandung: Mizan Media Utama,
________________, Dia Dimana-mana”Tangan” Tuhan Dibalik setiap Fenomena, Tangerang: lentera hati
Rusman, Model Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012
Yaumi, Muhamad, Ibrahim Nurdin, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple Intellegence) Mengoptimalkan dan Mengembangkan Multitalenta Anak, Jakarta: Kencana Premedia, 2013
Materi workshop Pembelajaran dan Penilaian Pendidikan Islam dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 Kementrian Agama Republik Indonesia
Buku pedoman pelatihan kurikulum 2013 kemendikbud




[1] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovasi dalam Kurikulum 2013, Yogyakarya:Ar-Ruzz Media, 2014, hal. 19
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, V0l. 15, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hal. 454
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, V0l. 15, ...  hal. 454
[4] M. Quraish Shihab Membumikan Al Quran fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1993, hal.168
[5]  Dalam proses pembelajaran penulis  mengembangkan pertanyaan sebagai sumber belajar. Penemuan ini diawali ketika mengevaluasi kompetensi pengetahuan yang melibatkan peserta didik untuk mengukur teman-temannya dalam menguasai sebuah materi. Sehingga terjadi saling melempar pertanyaan dan berusaha saling menjawab.
[6] M. Quraish Shihab, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran, Bandung: Mizan Media Utama, hal.  451
[7] Mushlih Muhamad, Kecerdasan Emosi Menurut Al Quran, Jakarta: Akbar Media, hal.219
[8] Ahmad Baiquni, Tafsir Salman: Tafsir Ilmiyah Juz Amma, Bandung: Mizan Media Utama, hal.35
[9] M. Quraish Shihab, Dia Dimana-mana”Tangan” Tuhan Dibalik setiap Fenomena, Tangerang: lentera hati, hal.69
[10] M. Quraish Shihab, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran, Bandung: Mizan Media Utama, hal.  451
[11] Mushlih Muhamad, Kecerdasan Emosi Menurut Al Quran, Jakarta: Akbar Media, hal.219


[i] Soleh Baedowi, M. Pd.I, Guru Pendidikan Agama Islam pada SDN Cireundeu 01 Ciputat Timur, Aktif dalam Kegiatan penulisan buku, Instruktur nasional pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, dan menjadi nara sumber dalam kegiatan pembelajaran.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAPSI ICONIK KKG PAI JAWA TENGAH

Contoh PAI BTQ MAPSI