Pendekatan Saintifik dalam perspektif al Quran
PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM
PERSPEKTIF AL QUR’AN
Soleh
Baedowi[i]
Abstrak
Pendekatan Saintifik sangat familier bersamaan dengan
munculnya kurikulum 2013. Sainitifik memberikan kekhasan terhadap lahirnya
kurikulum yang berbasis active learning ini. Pendekatan ini digadang-gadang menjadi satu pendekatan yang
paling tepat terhadap proses pembelajaran pada kurilukum 2013, sehingga tak
heran setiap kegiatan sosialisasi, palatihan, workshop, simposium, atau apa pun
kegiatannya yang berorientasi pada kurikulum baru tersebut saintifik salalu melekat untuk
dihafal dan disimulasikan dalam pembelajaran.
Pendekatan
saintifik meliputi lima proses yaitu mengamati (observing), Menanya (questioning), mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting), Menalar/Mengasosiasi
(associating), mengomunikasikan (communicating). Pada tahun 2016 ini pendekatan
saintifik bukan satu-satunya pendekatan dalam pembelajaran kurikulum 2013,
tetapi langkah-langkah ini cukup melekat bagi para guru. Penulis mencoba menulusuri
kembali dengan melihat nilai-nilai pada saintifik yang terdapat dalam al Quran
disertai inovasi pembelajaran yang tepat dalam setiap tahapannya.
Kayword: Saintifik, al
Quran, Inovasi Pembelajaran
A. Pendahuluan
Manusia
merupakan makhluk Allah yang terus mengalami perubahan. Perubahan yang
signifikan adalah perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Sebagai seorang
pendidik tentu tak hanya menjadi penonton tapi sudah menjadi kewajiban untuk
merubah dirinya dalam perkembangan IPTEK tersebut. Guru harus menjadi actor
perubahan dengan memanfaatkan teknologi dalam bentuk menciptakan inovasi
pembelajaran yang semakin menarik. Jika tidak demikian maka pendidikan yang
semestinya menjadi agen perubahan terhadap kemajuan dan perkembangan teknologi akan
tertinggal.
Guru
yang setiap harinya berinteksi dengan siswa harus memiliki kekuatan untuk sadar
dan menyadari bahwa inovasi pembelajaran adalah sebuah keharusan. Guru dituntut
untuk terus berinovasi untuk menyesuaikan kebutuhan siswa sesuai dengan
kekinian. Berinovasi dalam proses pembelajaran dapat diartikan bahwa guru tarus
berupaya menciptakan model-model baru yang dikenal dengan istilah inventional
discovery yang bertujuan memberikan kemudahan dalam pencapaian tujuan[1].
Islam
mengajarkan manusia untuk terus berubah, terus mengembangan kemampuan untuk
menyesuiakan kebutuhan zaman. Karena zaman terus mengalami perubahan maka
manusia dituntut untuk berinovasi, berkarya untuk diri dan masyarakat. Al Quran
secara tegas menyebutkan dalam surah ar-Ra’du ayat 11”
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“…Sesungguhnya
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,…” (QS: ar Ra’du:11)
Atas
dasar inilah guru harus memiliki kemauan merubah dirinya untuk menggali
model-model pembelajaran sehingga
tercipta metode dan teknik pembelajaran baru yang membuat siswa semakin tertarik dan tidak mengalami
kejenuhan, bosan, ataupun malas dalam menggali ilmu pengetahuan. Diharapkan
dengan menggunakan inovasi yang terbaru siswa akan mengikuti proses
pembelajaran dengan maksimal.
B. Pembahasan
Pembelajaran
sainifik merupakan proses pembelajaran yang meliputi kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkorfirmasi.
Mengamati
Wahyu pertama
yang diturunkan merupakan bukti nyata bahwa manusia harus melakukan proses
pembelajaran. Kata “ اقرأ “ pada ayat ini
menunjukan arti menghimpun yang dapat diartikan membaca.[2]
Makna yang terkandung dalam membaca adalah bagian dari dari proses menyerap
ilmu pengetahuan. Dalam pembelajaran scientific, membaca merupakan rangkaian kegiatan
pembelajaran inti, yang masuk dalam
rangkain kegiatan mengamati.
Makna yang
terkandung dalam membaca pada ayat satu tersebut memiliki aneka ragam arti,
yaitu menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengatahui
ciri-ciri.[3] Makna makna yang terkandung dalam bacaan
tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
manusia agar memperoleh pengetahuan. Pernyataan ini juga memperkuat bahwa pada
hakekatnya untuk mendapatkan pengetahuan manusia harus mengalami sebuah proses
pembelajaran memalaui kegiatan membaca.
Kegiatan membaca
merupakan cara untuk menggali informasi dari berbagai sumber ilmu pengetahuan
yang telah Allah berikan kepada manusia. Kata “اقرأ
“
pada ayat 1 dan 3 yang teradapat dalam surat al ‘alaq tidak diikuti oleh objek
bacaan, oleh karena itu jika dicermati maka objek membaca pada ayat-ayat tersebut
merupakan sesuatu yang bersumber dari Tuhan (al-Quran atau kitab suci
sebelumnya) seperti yang terkandung dalam QS 17: 45 dan QS 10: 94, dan juga
yang bersumber bukan dari kitab suci melainkan himpunan dari karya manusia
seperti yang terlihat dalam QS 17:14.[4]
Proses
pembelajaran diawali dari hal yang sederhana yaitu mengamati, hal ini
sebegaimana pernah dilakukan oleh nabiullah Ibrahim as ketika menemukan
Tuahannya. Di awali dengan melihat bintang-bintang yang indah, lalu rembulan
yang menawan, kemudian matahari yang menakjubkan, kemudian menyimpulkan ada
sesuatu yang maha besar dibalik keindahan ciptaanya, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan
langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS 6:79). Proses pembelajaran yang dilakukan nabi Ibrahim sejalan
dengan proses dalam pembelajaran yang diawali denan kegiatan mengamati. Dalam
kegiatan mangamaati ini nabi ibrahim memperhatikan, melihat, memperhatikan
ciptaanya, kemudian menganalisis lalu disimpulkan.
Pembelajran yang dilakukan sebagai contoh diatas merupakan proses yang
menghasilkan pengetahuan kemdian diaplikasikan dalam bentuk praktik atau
perbuatan.
Bertanya
Proses
yang sangat menarik dalam pembelajaran adalah bertanya. Secara khusus al Quran menganjurkan kepada pembelajar untuk
menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya. “Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang
kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)
nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”
(Q.S 41:10.) Keluasan
pengetahun diawali dengan diri untuk terus berupaya menambah wawasan dengan
bertanya. Bertanya memberikan stimulus kepada pembelajar untuk mengumpulkan
informasi terkait dengan pengetahuan. Pengetahuan yang bersumber dari beberapa
jawaban akan memperluas wawasan berfikir, sehingga dirinya menyadari bahwa
kebeneran tak hanya bersumber pada satu jawaban.
Dalam proses pembelajaran bertanya adalah bagian
sangat penting. Bertanya memberikan interaksi yang positif antara guru dengan
peserta didik, antara peserta didik dengan peserta didik. Interaksi ini
memberikan komunitas sosial dalam membentuk budaya yang baik. Dalam hal ini al Quran memberikan batasan
bahwa bertanya atau meminta jawaban harus kepada seseorang yang labih tahu,
sebagaimana “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki
yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Q.S an Nahl:43).
Proses pembelajaran yang berbasis pertanyaan ini dapat
dikembangakan dalam beberapa bentuk metode pembelajaran, seperti teknik tanya
jawab dan metode student question[5].
Sintake teknik tanya jawab sangat mudah diterapkan. Dalam proses
penyampaikan informasi tanya jawab bisa berlansung, bisa dari siswa ke guru,
dari siswa ke siswa, ataupun dari guru ke siswa. Teknik ini juga memberikan
manfaat untuk menstimulus siswa untuk lebih memperhatikan pada informasi yang sedang
diberikan. Selain memberikan stimulus teknik tanya jawab juga dapat menjadi ice
breaking yang dapat menumbuhkan konsentrasi dan focus siswa terhadap proses
pembelajaran yang sedang berlangsung.
Student question merupakan inovasi pembelajaran yang disesuaikan dengan
kebutuhan dan tuntutan perkembangan pembelajaran. Student question adalah pembelajaran yang
berbasis active learning dengan pertanyaan sebagai sumber belajar. Penggunakan
metode Student question bisa dalam bentuk kelompok atau individu.
Namun agar lebih menarik, siswa sudah terbagi dalam kelompok belajar. Sintake
pembelajaran menggunakan metode ini antara lain, Setiap kelompok/siswa
mendapatkan materi, Membaca dan
menguasai materi, Setiap
kelompok/ Peserta didik membuat pertanyaan dan jawaban Sesuai dengan materi, Guru
membagikan lembar soal dan lembar jawaban kepada kelompok yang berbeda, Misalnya
pertanyaan pada kelompok B diberikan kepada kelompok A sedangkan jawaban di
berikan kepada kelompok C, peserta didik menampilkan di depan kelas untuk saling menanya dan
menjawab soal yang di ajukan, guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang
tampil dan memberikan pengutan terhadap materi.
Mengasosiasikan
Proses pembelajaran berikutnya adalah mengajak peserta
didik untuk berfikir yang logis dan sistematis. Siswa diajak untuk belajar berfikir kritis tidak
jumud dan mengajak untuk berfikiri ilmiah berdasarkan fakta-fakta
empiris. Al Quran sangat intens terhadap manusia yang berfikir,
menggunakan analoginya untuk meraih pengetahuan. Secara berulang-ulang al Quran
memerintahkan kepada manusia agar berfikir tentang alam raya dan fenomenanya,
diri dan masyarakat[6].
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal
saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan …” (Q.S Saba:46). Ayat ini mendasari bahwa Islam mewajibkan
kita untuk berfikir.tentunya berfikir yang mendatangkan manfaat bukan mafsadat.
Tuntutan dalam berfikir adalah kesungguhan, tanggung
jawab, dan manfaat, jika syarat ini terpenuhi dalam proses berfikir, maka apaun
hasilnya Allah akan memberikan toleransi. Bahkan jika ada kekeliruan Allah
tetap memberinya pahala. Begitu mulianya Allah menciptakan manusia kerana
didalamnya ada kekuatan untuk berfikir. Al Quran secara tegas mencela
orang-orang yang memadamkan akal dan melenyapkannya hingga tidak berfikir,
memperhatikan, dan merenung serta tidak memanfaatkan alam semesta yang
dianugerahkan Allah[7].
Dalam
pembelajaran guru berperan memotivasi dan memberikan fasilitas untuk peserta
didik agar mereka menggunakan daya fikir mereka dengan optimal. Guru berperan
memberikan sajian metode yang menarik dan tepat sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Untuk menggali peserta didik memiliki daya nalar yang tinggi bisa
menggunakan metode Mind Mapping yaitu
suatu pembelajaran
dengan cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan
pikiran-pikiran. Sintake dalam pembelajaran ini menggunakan Mind Mapping adalah peserta
didik mendapat konsep disertai dengan tahapan-tahapan. Peserta didik akan
menyusun berdasarkan data empiris dari pengalaman atau informasi yang mereka
dapatakan.
Mencoba
Proses pembelajaran
yang berikutnya adalah tahapan mencoba (eksperimen/
experimenting) yaitu siswa memperoleh hasil belajar yang nyata atau
otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan
percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Mencoba adalah hal sangat menarik bagi siswa karena menjadi pengalaman
pertamanya dalam tahapan kehidupan yang sebenarnya. Mencoba adalah bagian dari
simulasi, menggunakan sesuatu untuk menguji, atau mengerjakan berdasarkan
keadaan yang sebenarnya. Dalam pembelajaran ini peserta didik diajak untuk
memberikan bukti dari informasi yang
didapatkan dari guru.
Al Quran secara tegas
memberikan kekuatan bahwa data dan informasi yang didapatakan harus memiliki
bukti outentik yang dapat dipertanggungjawabkan. Al Quran menjawab dengan bukti
seperti, “Bukankah Kami
telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai
pasak?” (QS. An Naba’:6-7) Allah menggunakan bumi dan gunung sebagai salah satu bukti kebenaran.
Maksud hamparan adalah bumi yang diciptakan Allah sangat indah. Dan bumi ini
indah dapat kita buktikan dengan paca indra kita, sungguh mankjubkan ciptakaan
Allah. Begitu pula dengan gunung yang berpungsi sebagai pasak bumi. Ayat di
atas memberikan arahan kepada kita agar membenarkan terhadap berita yang
disampaikan malalui fenomena alam[8].
Gunung-gunung menggenggam
lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan
bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan dengan ini Allah memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di
atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa gunung
memiliki jalur dan garis- garis yang terlihat berwarna putih dan ada
juga yang berwarna merah[9].
Ayat ini memberikan keteladanan kepada guru dalam pembelajaran guru harus
memberikan stimulus agar teori-teori
yang mereka dapatkan harus bisa dibuktikan sacara outentik.
Pembelajaran yang mengarahkan pada proses ini antara
lain Group Investigation, dengan Picture and Picture, teknik
kunjung karya, karya wisata dan lain-lain,
Group Investigation diartikan sebagai pelaksanaan dengan cara mencari dan
menemukaninformasi (gagasan, opini, data, solusi ) dari berbagai macam sumber
(buku-buku, institusi-institusi, orang-orang) didalam dan diluar kelas. Sintake Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen, Peserta didik menerima informasi maksud
pembelajaran dan tugas kelompok, Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok
mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain, Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada
secara kooperatif yang bersifat penemuan, Setelah
selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok, Peserta didik menyampaikan kesimpulan,Peserta didik menerima penguatan materi. Pembelajaran dalam model ini peserta didik bisa juga diajak
langusng ke tempat-tempat yang disesuaikan dengan teori, laboratorium ataupun
perpustakaan
Mengasosiasikan
Proses pembelajaran berikutnya adalah mengajak peserta
didik untuk berfikir yang logis dan sistematis. Siswa diajak untuk belajar berfikir kritis tidak
jumud dan mengajak untuk berfikir ilmiyah berdasarkan fakta-fakta empiris. Al
Quran sangat intens terhadap manusia yang berfikir, menggunakan analoginya
untuk meraih pengetahuan. Secara berulang-ulang al Quran memerintahkan kepada
manusia agar berfikir tentang alam raya dan fenomenanya, diri dan masyarakat[10].
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal
saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan …” (Q.S Saba:46). Ayat ini mendasari bahwa Islam mewajibkan
kita untuk berfikir
Syarat utama dalam berfikir adalah penuh kesungguhan,
tanggung jawab, dan memiliki manfaat, jika syarat ini terpenuhi dalam proses
berfikir, maka apaun hasilnya Allah akan memberikan toleransi. Bahkan jika ada
kekeliruan Allah tetap memberinya pahala. Begitu mulianya Allah menciptakan
manusia kerana didalamnya ada kekuatan untuk berfikir. Al Quran secara tegas
mencela orang-orang yang memadamkan akal dan melenyapkannya hingga tidak
berfikir, memperhatikan, dan merenung serta tidak memanfaatkan alam semesta
yang dianugerahkan Allah[11].
Dalam
pembelajaran guru berperan memotivasi dan memberikan fasilitas untuk peserta
didik agar mereka menggunakan daya fikir mereka dengan optimal. Guru berperan
memberikan sajian metode yang menarik dan tepat sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Untuk menggali peserta didik memiliki daya nalar yang tinggi bisa
menggunakan metode Mind Mapping yaitu
suatu pembelajaran
dengan cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan
pikiran-pikiran. Sintake dalam pembelajaran menggunakan Mind Mapping adalah peserta
didik mendapat konsep disertai dengan tahapan-tahapan. Peserta didik akan
menyusun berdasarkan data empiris dari pengalaman atau informasi yang mereka
dapatakan.
Mengomunikasikan
Kegiatan pembelajaran berikutnya adalah memberikan kesempatan
kepada siswa untuk membuat laopran atau kesimpulan. Istilah dalam pendekatan
saintifik disebut mengomunikasikan. Mengomunikasikan merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau
media lainnya. Kompetesi yang dikembangkan dalam tahapan mengomunikasikan
ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir
sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan
kemampuan berbahasa yang baik dan benar. dalam pendidikan Islam diharapkan
menculnya peserta didik yang memiliki komitmen terhadap keyakinannya. Karena Pendidikan Islam bukan Islamologi
melainkan menerapkan nilai-nilai Islam yang diwujudkan dalam perilaku kehidupan
sehari-hari.
Keyakinan Ibrahim terhadap Tuhannya merupakan proses
pembelajaran yang memberikan hasil sesuai dengan tujuan. Sebagaimana al Quran
beritakan dalam Surah Fushilat:37 “Dan sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada
matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah
Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (QS Fushilat:37).
Menyiapkan generasi yang memiliki kepercayaan diri diawali
pada proses pembelajaran tahapan ini. Peserta didik diberikan kesempatan untuk
memberikan pendapat, kesimpulan, dan tindak lanjut yang berhubungan dengan dirinya.
Peran pendidik dalam tahapan ini bisa menjadi fasilitator atau motivator. Guru
tidak memberikan stigma negatif terhadap apapun yang disampaikan peserta didik.
Karena stigma negatif ini akan memberikan dampak murung, keputusasaan bahkan
akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Pada saat ini lah peran guru
berfungsi sebagai motivator yaitu memberikan semangat, memberikan spresiasi
terhadapt peserta didik, memberikan komentar yang positif, memberikan
penilaian, dan menumbuhkan semangat dan minat.
C.
Penutup
Berinovasi dalam
pembelajaran merupakan keharusan bagi seorang guru.
Guru harus terus memodifikasi metode
pembelajaran
agar peserta didik tidak mengalami kejenuhan dalam pembelajaran. Namun dalam
memilih metode pembelajaran guru harus memperhatikan
karakteristik siswa, kerekteristik tema pembelajaran, dan waktu
yang tersedia.
Apapun
metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran perlu diperhatikan
prinsip-prinsip proses pembelajaran.
Prinsip-prinsip tersebut meliputi: berpusat pada siswa (student centre), belajar
disertai praktik (learning by doing) menuju proses pembelajaran yang
menyenangkan, mengembangkan kompetensi sosial (learning to live together),
mengembangkan keingintahuan dan imajinasi, mengembangkan kreativitas dan
keterampilan memecahkan masalah (scientific problem solving).
DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, Ahmad, Tafsir Salman: Tafsir Ilmiyah Juz Amma, Bandung:
Mizan Media Utama
Devi, Shakuntala, Jadikan Anak Jenius, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2011
Karjono, Moehari, Mempersiapkan generasi Ceras tuntunan dalam Mendidik
dan mempersiapkan anak cerdas dan berakhlak islami, Jakarta: Qisthi Press
Muhamad, Mushlih, Kecerdasan Emosi Menurut Al Quran, Jakarta:
Akbar Media
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam upaya Mengoptimalkan Pendidikan
Agama Islam, di Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012
Shoimin, Aris, 68 Model Pembelajaran Inovasi dalam Kurikulum 2013,
Yogyakarya:Ar-Ruzz Media, 2014
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian
Al-Quran, V0l. 15, Jakarta: Lentera Hati, 2002
________________, Membumikan Al Quran fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1993, hal.168
________________, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran, Bandung:
Mizan Media Utama,
________________, Dia Dimana-mana”Tangan” Tuhan Dibalik setiap Fenomena,
Tangerang: lentera hati
Rusman, Model Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012
Yaumi, Muhamad, Ibrahim Nurdin, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak
(Multiple Intellegence) Mengoptimalkan dan Mengembangkan Multitalenta Anak,
Jakarta: Kencana Premedia, 2013
Materi workshop Pembelajaran dan Penilaian Pendidikan Islam dan Budi
Pekerti Kurikulum 2013 Kementrian Agama Republik Indonesia
Buku pedoman pelatihan kurikulum 2013 kemendikbud
[1] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovasi dalam Kurikulum 2013,
Yogyakarya:Ar-Ruzz Media, 2014, hal. 19
[2] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, V0l. 15,
Jakarta: Lentera Hati, 2002, hal. 454
[3] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, V0l. 15,
... hal. 454
[4] M. Quraish
Shihab Membumikan Al Quran fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, Bandung: Mizan, 1993, hal.168
[5] Dalam proses
pembelajaran penulis mengembangkan
pertanyaan sebagai sumber belajar. Penemuan ini diawali ketika mengevaluasi
kompetensi pengetahuan yang melibatkan peserta didik untuk mengukur teman-temannya
dalam menguasai sebuah materi. Sehingga terjadi saling melempar pertanyaan dan
berusaha saling menjawab.
[6] M. Quraish Shihab, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran,
Bandung: Mizan Media Utama, hal. 451
[9] M. Quraish Shihab, Dia Dimana-mana”Tangan” Tuhan Dibalik setiap
Fenomena, Tangerang: lentera hati, hal.69
[10] M. Quraish Shihab, Secercah Cayaha Ilahi Hidup Bersama Al Quran,
Bandung: Mizan Media Utama, hal. 451
[i] Soleh Baedowi, M. Pd.I,
Guru Pendidikan Agama Islam pada SDN Cireundeu 01 Ciputat Timur, Aktif dalam
Kegiatan penulisan buku, Instruktur nasional pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti, dan menjadi nara sumber dalam kegiatan pembelajaran.
Makalah yang bagus dan manfaat
BalasHapusMakalah yang bagus dan manfaat
BalasHapusgood paper.bnyak manfaatnya
BalasHapusterima kasih
Hapus