Pembinaan Keluarga (tafsir singkat QS Lukman 14-15)



KeluargaQ IdamanQ
PEMBINAAN KELUARGA
(Tafsir Tarbawy QS Luqman: 14-15)

  1. PENDAHULUAN
Keluarga sakinah waddah warah, itulah salahsatu harapan yang ingin diraih manusia. Tentu  semua manusia mendambakan keluarga yang harmonis, bahagia, selalu menghadirkan  dan memberikan ketenangan bagi kehidupannya. Berbagai cara yang dilakaukan oleh manusia untuk mendapatkannya. Mereka melakukan perjuangan dengan penuh semangat. Ada yang bekerja dengan sungguh-sungguh hingga dia bertekat pergi gelap dan pulang gelap. Ada juga yang memberikan pendidikan yang terbaik dengan biaya yang mahal. Semua itu berharap-harap agar kelak memberikan kedamain dan kebahagiaan bagi kehidupannya.
Untuk mendapatkan kebahagiaan tantu bukanlah sesuatu yang sulit namum bukan berarti sangat mudah, karena pada hakekatnya keluarga adalah sebuah bangunan yang handak dilandasai dengan pondasi yang kuat, bangunan yang kokoh, dan dihuni oleh orang-orang yang berakhlak dan beriman kepada Allah. allah memberikan mengingatkan kepada orang yang beriman agar salalu menjaga keluarganya dari hinaan dan kesengsaraan di akhirat nanti; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim:6)
Secara tegas Allah meyatakan pentingnya sebuag keluarga yang dibangun dengan landasan ketakqwaan kepada Allah SWT. ini digambarkan sebagaimana QS at Tahrim di atas bahwa orang yang beriman wajib melindungi keluarganya dari siksa api neraka. dengan ini dapat dinyatakan bahwa untuk melindungi keluarga bukanlah dengan rumah yang mewah, harta yang melimpah, tatapi perlu ada sebuah pembinaan yang dapat mendorong agar menusia menjadi manusia yang bahagia di dunia dan akhirat.
Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan, ini merupakan bentuk keagungan dan keragaman Allah terhadap makhluknya. Dengan berpasang-pasangan ini tercipta sebuah hubungan yang saling menguatkan, saling mengisi dan saling melengkapi untuk melanjutkan cita-cita hidupnya. Begitulah indahnya ciptakaan Allah.  Kehidupan manusia yang terus berkembang adalah saah satu bukti yang nyata bahwa manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah ( QS 51:49).
Kehidupan indah yang dijalani mansuia merupakan bagian dari keindahan berkeluarga. Karena manusia adalah makhluk sosial makhuk yang saling membuthkan satu sama lain, maakhluk yang saling melengkapi dan saling membahagiakan satu dengan yang lainnnya. Namun untuk mendapatkan kabahagiaan dalam sebuah keluarga tak semudah membalikan membalikan tapalak tangan. semua berproses dari awal hingga akhir.
Keluarga yang damai tentu sangat diidamkan oleh semua manusia. karena kedamaian dan kebahagiaan dapat mengantarkan kedamaian dan kebahagiaan yang abadi. Tentu hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, namun bukan pula sesuatu yang menyulitkan. Manusia yang ingin mendaptkan itu harus bermula dari niat dan tujuan keluarga yang dibentuk. Seperti penjelasan Allah “supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”( QS 30:21)
Namun tidak semua keluarga dapat meraih kebahagiaan dan kedamaian yang dijanjikan oleh al Quran. Boleh jadi mereka tidak mengjalankan amanat dan perintah al Quran dalam menjalankan keluarga. Oleh karena itu tafsir tarbawi yang membahas surat Luqman ayat 14 – 15 ini bagian dari informasi al Quran tentang solusi untuk meraih kebahagiaan dan kedamaikan yang hakiki yaitu pembinaan keluarga. Tafsir ayat-ayat tarbawi yang membahas surat Lukman ayat 14-15 yang kedua ini adalah bagian dari perbaikan dan perluasan pembahasan. Tentu banyak hal yang sama karena pemakalah hanya memperluas saja. Tentu bukan berarti sempurna karena pemakalah adalah bukan orang yang mengerti tentang al Quran, tapi hanya berusaha untuk mendapatkan dan meraih hikmah dibalik keajaiban al-Quran
  1. PEMBAHASAN
1.      Pengertian Keluarga
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, keluarga diartikan dalam berbagai definisi, seperti (1) keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah: seluruh -- nya pindah ke Bandung; (2) orang seisi rumah yg menjadi tanggungan; batih: ia pindah ke Jakarta bersama -- nya; (3) (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat: ia sering berkunjung ke Jakarta krn banyak -- nya tinggal di sana; (4) satuan kekerabatan yg sangat mendasar dl masyarakat[1]
Keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya kebodohan dan keterbelakangan suatu bangsa adalah cerminan dari keadaan keluarga-keluarga  yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut[2].
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan[3]. Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, di antaranya :
1.      Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
2.      Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya,1978 ).
3.      Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988)[4].
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekelompok orang yang berada dalam satu tempat tinggal memiliki peraturan dan norma, memiliki hak dan kewajiban serta terikat dalam perkawinan sehingga saling memiliki dan ketergantungan satu sama lainya. Dalam islam keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan dan kelangsungan hidup. Karena itu terbentuknya sebuah keuarga harus memiliki niat yang benar serta tujuan yang jelas.
2.      Macam-Macam Keluarga
Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga
a.         Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b.        Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara. Misalnya : kakak, nenek, keponakan, dan lain-lain.
c.         Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d.        Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e.         Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f.         Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga[5].

3.      Fungsi Keluarga
Selain itu menurut peraturan pemerintah nomor 21 tahun 1994, ada 8 fungsi keluarga, yaitu:
a.       Fungsi Keagamaan
Dalam keluarga dan anggotanya fungsi ini perlu didorong dan dikembangkan agar kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan agamis yang penuh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Fungsi Sosial Budaya
Fungsi ini memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan, sehingga dalam hal ini diharapkan ayah dan ibu untuk dapat mengajarkan dan meneruskan tradisi, kebudayaan dan sistem nilai moral kepada anaknya.

c.       Fungsi Cinta kasih
Hal ini berguna untuk memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya serta hubungan kekerabatan antar generasi, sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin. Cinta menjadi pengarah dari perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap yang bijaksana.
d.      Fungsi Melindungi
Fungsi ini dimaksudkan untuk menambahkan rasa aman dan kehangatan pada setiap anggota keluarga.
e.       Fungsi Reproduksi
Fungsi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia di dunia yang penuh iman dan takwa.
f.       Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di masa yang akan datang.
g.      Fungsi Ekonomi
Sebagai unsur pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
h.      Fungsi Pembinaan Lingkungan
Memberikan kepada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.

4.      Pentingnya Pembinaan dalam Keluarga
Al Quran sangat inten membahas persoalan keluarga. Karena kelaurga mempunyai peran yang penting dalam pembangunan dan pengemabagan peradaban bangsa kearah yang lebih baik.  Keluarga yang menanamkann kebaikan akan melahirkan bangsa yang damai sejahtera dan aman. Bangsa yang damai bernagkat dari keluarga yang bahagia. Untuk itu al Quran memberikan gambaran yang jelas tantang pentingnya sebuah pembinaan dalam keluarga. Dengan tegas Allah menyatakan dalam al Quran
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [٦٦:٦]

,” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim:6)
Kehidupan keluarga adalah ibarat sebuah bangunan, tentunya satu dengan yang lain harus salling menguatkan. Demi terpeliharanya bangunan itu dari badai yang mengancam dan dari gonjangan yang dasyat, maka ia harus dilandasi dengan fondasi yang kuat dengan bahan bangunan yang kokoh. Fondasi kehiudupan keluarga adalah ajaran agama, disertai dengan mental dan fisik yang sehat, dan diwarnai dengan bumbu kesabaran dan tetap memelihara kesucian dalam menjalankan roda kehidupan. Sedangakan kokohnya bahan-bahan bangunan adalah tercermin antara lain dalam menjalankan kewajiban memperhatikan buah perkawinan itu. Yaitu anak yang menjadi amanat dalam keluarga.
Pendidikan anak hendak dimulai sejak pranatal yaitu ketika masih dalam kandungan hingga dewasa, pembinaan terhadap anak tak ada kahirnya sehingga terputus kenikmatan dunia. Tentu sang ibu diperintahkan untuk memperhatikan kesehatanya, karena kesahatan sang ibu ketika mengandung akan mempengruhi kehidupan dan kesehatan janin dalam rahim ibu.
Bimbingan keluarga bukan hanya terbatas pada usia sekolah, namun bimbingan kelurga adalah pendidikan seumur hidup. Semua anggota keluarga memiliki peran yang sama dalam mencapai misi keluarga yang sakinah. Mereka harus secara bersama menjalankan syariat Allah swt.
Tentunya Setiap orang menginginkan suasana keluarga harmonis dan terasa nyaman. Namun, kadang harapan itu tak seslu mulus karena ujian kadang datang untuk menguji keharmonisan keluarga. Ketika ujian yang tak segera disadari dan dicari solusinya maka akan berakibat fatal bagi kelangsungan dan keharmonisan keluarga. Ada beberapa hal yang membuat kelaurga tetap harmonis diantaranya adalaha sebagai berikut:
1.    Jalin komunikasi yang baik
Komunikasi merupakan hal yang penting dalam keluarga karena dengan komunikasi yang lancar maka masalah yang timbul akan dengan mudah terselesaikan. Ketika terjadi mis komunikasi maka segeralah untuk meluruskan komunikasi yang bermasalah tersebut.
2.    Jangan malu mengakui kesalahan
Dalam keluarga biasanya ada salah satu anggota yang ingin menang sendiri karan menganggap dirinya yang paling tahu dan benar. Ketika berbuat salah segeralah meminta maaf atas kesalahan yang terjadi sehingga maslahnyantidak berlarut-larut. Walaupun rasanya berat tapi itulah jalan yang terbaik ketika melakukan kesalahan.
3.    Ciptakan suasana demokratis
Suasana demokratis sangat penting dalam kehidupan keluarga. Karena dengan suasana demokratis  maka pendapat dan unek-unek setiap anggota keluarga bisa tersampaikan dengan baik. Ketika suasana ini belum tercipta maka segeralah untuk merintis suasana ini sehingga nantinya akan terbiasa.
4.    Hargai kekurangan
Setiap orang memiliki takdir sendiri-sendiri dan setiap ada kekurangan pasti ada juga kelebihannya. Setiap manusia tidak ada yang sama walaupun bersaudara. Hindarilah membanding-bandingkan kelebihan anggota keluarga.
5.    Pelihara empati
Sikap empati adalah turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dalam kehidupan berkeluarga empati memiliki peran yang penting karena disitulah letak perasaan seiring sejalan dalam keluarga.





  1. KANDUNGAN AYAT
1.      Surat Luqman Ayat 14-15
 (SURAT LUQMAN AYAT 14)
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ [٣١:١٤]
Terjemah:  
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman:14)

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ  لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [٣١:١٥]
Terjemah
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman:15)

Surat Luqman artinya Luqman, yaitu seseorang yang ditokohkan dalam kisah Luqman. Sebagian ulama mempermaslahkan kesdudukan Luqman, apakah dia seorang nabi ataukah hamba Allah yang shaleh yang diberi kedudukan hikmah. Imam Asy Syaikani menyebutkan bahwa Luqman al Hakim bukan seorang nabi melainkan hamba Allah yang diberi kelebihan dari hamba-hamba yang lain, yakni diberi hikmah.
Surat Luqman termasuk golongan Makiyah yang terdiri dari 34 ayat, diturunkan setelah surat as shafat. Dinamakan surat Luqman  karena dalam surat tersebut ada kisah Luqman, yang nama lengkapnya adalah Luqman bin Ba’ura yaitu salah seorang putra dari nabi Ayub as. Termasuk suku naubah, dan merupakan bagian dari masyarakat Ailah, yakni sebuah kota yang berada di Qulzum. Ia hidup pada zaman nabi Daud as dengan dijuluki al Hakim[6] ( orang yang bijaksana).
2.      Asbabunuzul
Wahbah Zuhayli sebagaimana dikutip oleh Dr.Nurwajdah Ahmad, menjelaskan bahwa ada orang quraisy datang kepada rasulullah saw. yang meminta agar dijelaskan kepadanya berkaitan dengan kisah Luqman al Hakim dan anaknya. Rasulullah saw. pun membacakan surat Luqman. Sedangkan pokok-pokok ajaran yang terjandung dalam surat Luqman tersebut terdiri dari, pertama keimanan kepada Allah, para nabi dan hari Kiamat. kedua, kisah Luqman merupakan potret orang tua dalam mendidik anak dengan ajran keimanan. Dengan pendidikan persuasif, maka Luqman dianggap sebagai profil pendidik yang bijaksana, sehingga Allah swt. mengabadikan dalam al Qur’an dengan tujuan menjadi pelajara bagi pembacanya. Ketiga, karakterisitik manusia pembangkang, Allah mejelaskan tipa manusia pembangkang terhadap perintah Allah swt.  hingga pada akhirnya mereka tidak mau mendengarkan Al Qur’an[7].
Dalam riwayat lain yang memiliki  asbabun nuzul yaitu terdapat pada ayat 15 mulai     وَإِنْ جَاهَدَاكَ    sampai kata       مَعْرُوفًا   turun berkaitan dengan keislaman Sa’ad bin Abi Waqas. Sedangkan mulai dari      وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ      turun berkaitan dengan Abu Bakar.   Ketika tersiar Abu Bakar tentnag keislaman Abu Bakar maka beberapa orang  Quraisy seperti Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Sa’id  bin Zaid, Ustman, Thalhah, dan Az zubair mendatangi Abu Bakar menanyakan kabar tersebut. Setelah itu mereka mendatangi rasulullah dan  menyatakan keislaman mereka karena mengikuti apa yang telah ditempuh Abu Bakar[8].
 makna kata ( mufradat )
Arti
Lafal
Kami berwashiat (perintahkan ) kepada Manusia
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ
Dalam keadaan lemah yang bertambah lemah
وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
Dan menyusui dalam dua tahun
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
Tidak ada pengetahuan tentang itu
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Pergaulilah di dunia dengan baik
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا
Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaku
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

3.       Isi Kandungan
Surat Luqman ayat 14 ini membrikan penjelasan tentang nasihat Lukam kepada anaknya. Nasihat yang dimaksud adalah pengajaran Luqman kepada anaknya. Ayat ini disisipkan al Quran untuk menujukan betapa pentingnya penghormatan dan kebaktian seorang kepada orang tuanya. Penghormatan dan pengabdian seseorang kepada oang tuanya ini menempati urutan kedua setelah berbakti kepada Allah swt.  Surat Luqman ayat 14 ini juga seiring dengan ayat lain yang menggandeng dua pengabdian seseorang di dunia ini yaitu kepada Allah dan kepada kedua orang tua. Seperti disebut dalam surat al An’ām:151 dan al Isra’: 23. “ Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS  al An’ām:151),  “ dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia (QS al Isra’: 23)
Ayat lain yang seimbang yangmenjelaskan penghormatan kepada kedua  orang tua antara lain;
واعبدوا الله وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وبالوالدين إِحْسَاناً . . .   النساء : 36
قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وبالوالدين إِحْسَاناً  . . الأنعام : 151
وَوَصَّيْنَا الإنسان بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْراً . . الأحقاف : 15
Thahir Ibn ‘Asy’ur sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr M. Quraish Shihab berpendapat bahwa jika kita menyatakan bahwa Luqman bukan seorang nabi, ayat ini adalah sisipan yang sengaja diletakan setelah wasiat Luqman yang lalu tentang keharusan mengesakan Allah swt. dan mensykuri-Nya[9]. Dengan sisipan ini menunjukan bahwa Allah menggmabarkan betapa pentingnya pengenalan untuk menghormati dan memulyakan kedua orang tua sejak dini. Pengenalan ini merupakan anugerah yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Anugerah pengormatan seorang kepada orang tua tidak boleh melupakan dan tetap memperhatikan hak-hak Allah sebagai sang pencipta.
Selanjutnya Ibn ‘Asy’ur menjelaskan bahwa kalau kita berpendapat bahwa Luqman adalah seorang nabi, maka ayat ini adalah bagian dari nasihatnya yang beliau sampaikan sesuai dengan wahyu yang beliau terima, dan sejalan pula dengan redekasi ayat yang sebelumnya menyatakan : “ .... Besukurlah kepada Allah “.  Perbedaan ini disebabkan karena kontek surat Luqman  ini adalah uraian tentang wasiat Allah bagi umat yang terdahulu. Sedangka ayat dalam surat al ankabut dan al ahqaf itu untuk tuntunan umat Nabi Muhamad saw[10]. menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya :”
وهو: لقمان بن عنقاء بن سدون. واسم ابنه: ثاران[11]
Surat Luqman ayat 14 ini baik secara langsung atau tidak menyatakan dengan jelas bahwa  Allah berwasiat kepada manusia. Yang artinya memberikan pesan yang kuat,  dan pesan yang amat kukuh menyakut kedua orang tua yaitu ibu dan bapak. Pesan ini karena ibu telah mengandung dalam keadaan lemah di atas kelemahan. Yaitu kelemahanyang sangat payah, dari waktu ke waktu terus bertambah. Lalu sang ibu melahirkan dengan susah payah, kemudian memliharanya dan menyusuinya setiap saat, bahkan sang ibu tidak pernah tertidur dengan pulas karena menjaga sang buah hati. Setiap detik hati dan pukiranya tercurah untuk sang buah hati. Demikian perhatian sang ibu kepada anaknya. Hingga sang ibu menyiapkan untuk menyapihnya setelah berumur dua tahun.
Maka Allah berwasiat” besyukurlah kepadaKu” karena Allah telah menciptakan kamu dari tidak ada menjadi ada dan menyediakan semua sarana yang dibutuhkan untuk kebahagiaan kamu. Bersyukur pula kepada kedua orang tua, karena Allah telah menjadikan mereka sebagai perantara kehadiran kamu di bumi ini.
Ayat di ats tidak menjelaskan secara rinci jasa sang ayah, tetpai menekankan pada jasa ibu. Ini disebabkan peranan ibu jauh lebih besar dalam keluarga. Ibu sangat munkin untuk tidak diharaukan oleh anak. Sedangkan bapak dalam kontek pengasuhan dari pranatal hingga kelahiran anak lebih ringan dibanding peranan ibu. Setelah terjadi pembuahan dalam rahim ibu hampir semua pola pengasuhan jatuh kepada sang ibu. Bahkan pola pengasuha hingga penyusuan praktis menjadi tanggung jawab ibu. Namun betapapun peran ayah tak sehebat peran ibu dalm pengasuhan terutama dalam proses kelahiran anak, jasa ayah tetap tidak boleh diabaikan. Karena itu sang anak wajib mendoakan untuk keduanya, “ dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".( QS Al Isra’ :24)
Pada surat Luqman ayat 15 ini adalah kelanjutkan dari nasihat Luqman kepada anaknya. Ayat sebelumnya menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua, pada ayat ini diuraikan hal-hal yang berupa pengecualian taat kepada kedua orang tua. Dinyatakan dan jika keduanya  bersungguh-sungguh memaksa kamu untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak ada pengethaun tentang itu, apa lagi sudah jelas bahwa ajaran nabi Muhamad telah sampai kepada kita dan sudah mengimani dengan sesungguh-sungguhnya dan mepraktekan iman dalam kehidupan sehari-hari, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Namun dilarng memutuskan persaudaraan dan tetpa menghormatinya. Tetaplah berbakti kepada keduanya selama pergaulan itu itu tidak bertentangan dengan agama.
Pada kata  (  جَاهَدَاكَ   ) terambil dari kata juhd yang artinya kemampuna. Kata ini menggambarkan adanya upaya sungguh-sungguh, kalau upaya sungguh-sungguhpun dilarangnya . sungguh-sungguhnya dalam hal ini bisa dalam bentuk ancaman taupun tekanan dari kedua orang tua.
Yang dimaksud dengan kata (      مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ   ) adalah tidak adanya kemungkinan yang terjadi. Tiadanya pengetahuan berarti tidak ada objek yang diketahui. Ini berarti tidak wujudnya sesuatu dapat dipersekutukan dengan Allah swt., kata ini menunjukan larangan untuk mengikuti siapapun – termasuk kedua orang tua- sekalipun dengan memaksa untuk menyekutukan Allah.
Kata  (  مَعْرُوفًا   )  memiliki arti segala sesuatu yang dinilai oleh masyarakat baik selama tidak bertentangan dengan aqidah islamiyah. Dalam hal ini diriwayatkan bahwa Asma’ putri Abu Bakar ra. Pernah didatangi ibunya yang ketika itu masih musyrik. Asma’ bertnya kepada nabi Muhamad SAW., bagamana seharunya ia bersikapm. Maka rasulullah SAW., tetap memerintahkan untuk tetap menjalin hubungan baik menerima dan memberi hadiah serta mengunjungi dan menyambut keunjungannya.

  1. MUNASABAH AYAT
Sebagai kitab yang sempurna al Quran juga memberikan paparan bahasa yang saling terhubung. Quraish Sihab dalam bukunya Mukjizat al Quran menyebutkan bahwa ayat-ayat al Quran merupakan serat yang membentuk tenunan  kehidupan bagi seorang muslim serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu al Quran sering berbicara tantang suatu persoalan yang menyangkut kehidupan seseorang maka akan  tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang pesoalaan yang lain. Hal ini menunjukan bahwa ada keserasian hubungan yang amat mengagumkan .
Seperti halnya pada surat Luqman ayat 14 dan 15 ini memiliki korelasi yang sangat jelas, baik korelasi terhadap ayat seblumnya maupun sesudahnya. Berdasarkan sifatnya hubungan ayat ini dengan sebelumnya maupun dengan sesudahnya bersifat Zahir al Irthibat’ artinya ada persesuaian atau keterkaitan yang jelas. Karena ayat yang satu dengan yang lainya saling menyempurnakan dengan kalimat sehingga ayat tersebut sperti manjdi satu kesatuan yang utuh.
Berdasarkan materinya surat Luqman ayat 14-15 memiilki hubungan yang saling mnjelaskan. Ayat yang berdmpingan sering kali saling menjelaskan dan maksud dari pesan Allah yang akan disampaikan melaui surat tersebut. Ayat 14 dan 15 adalah bagian dari penjelas ayat sebelumnya yang terdapat pada ayat 12. Pada ayat 12 memberikan keterangan tentang nasihat luqman kepada anaknya. Ayat 14 dan 15 adalah bagian dari nasihat yang Luqman sampaikan kepada umatnya. Ini menunjukan bahwa pada ayat 14 dan 15 memiliki munasabah ayat dengan pola saling menguatkan dan menjelaskan.


  1. ASPEK PENDIDIKAN DALAM AYAT
1.         Pendidikan Keluarga
Dalam dunia penidikan di kenal trilogi pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, pedidikan di sekolah dan pendidikan di lingkungan masyarakat. Satu aspek yang sangan dominan dalam surat lukman ini adalah pendidikan keluarga
Dalam Surat Luqman ayat 14 dan 15 ini memaparkan bagaimana peran orang tua sangat penting dalam pembinaan keluarga. Kedudukan Orang tua dalam keluarga  sebagai pusat pendidikan. Keberhasilan pendidikan dalam kelaurga adalah tergantung bagaimana orang tua membuat proses pembelajaran yang seimbang dan terus berkelanjutan sehingga keluarga yang diidamkan akan terwujud.
Pada ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat terhadap masa depan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap  anak untuk menyampaikan dasar-dasar keimanan, akhlak dan selalu mensykuri kehidupan yang diterima. Hal ini dapat dilihat dari permulaan ayat dengan menggunakan “   وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ  “ yang artinya kami berwasiat ( mengajarkan dan membimbing). Dari kalimat ini menunjukan bahwa kewajiban orang tua terhadap anak. Diantara yang harus ditanamkan kepada anak yaitu: penanaman akidah islam, penaman akidah ini sebagai landasan atau pondasi anak dalam menjalankan kehidupan mendatang. Hal ini sebagaimana dilakukan rasulullah saw. rasulullah lebih dari tiga belas tahun menanamkan aqidah kepada para sahabat. Sehingaa sahabat dapat melewati masa ujian dan cobaan keimanan yang dasyat.
Selanjutnya orang tua berkewajiban menyerahkan anaknya untuk dididik oleh guru ( sekolah) sebagai wasilah tanggung jawabnya. Tentu orang harus menempatkan anaknya disekolah yang sesuai dengan kebutuhan ruhani dan jasmani. Dalam memilih tempat belajar anak tentu harus diperhatikan kondisi anak dalam hal mental dan psikolosgi yang artinya kebutuhan pendidikan disesuaikan dengan perkembangan anak. Dengan perjuangan dalam membimbing keluarga maka seorang anak wajib berbuat baik kepada orang tua.

2.         Berbuat baik kepada guru (orang tua)
Orang tua adalah guru sepanjang hayat, karena itu berbakti kepada kadua orang tua adalah sebuah keharusan yang mesti dilaksanakan oleh anak sepanjang hayat pula.
Keharusan berbakti kepada kedua orang tua disetai penjelasan bahwa orang tua  telah susah payah mengurus anak, mulai dari mengandung sampai menyapihnya selama dua tahun. Keharusan berbaktikepada orang tua juga dibatasi oleh aturan-aturan yang jelas oleh al Quran. Allah pun berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”(Qs. An-Nisa’:36) Syaikh Utsaimin berkata: “Ayat ini merupakan dalil (argumentasi) bahwa kedudukan kedua orang tua (untuk dipenuhi hak-haknya) adalah setelah hak Allah. Kalau ditanya, di manakah hak Rasul? Maka pada hak Allah telah tercakup hak Rasul. Sebab ibadah kepada Allah tidak bisa diwujudkan kecuali dengan apa yang diajarkan Rasul SAW. Rasul SAW bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua” (HR. At-Tirmidzi). Kemuliaan  dan kewajiban untuk memuliakan kedua orang tua Rasul SAW bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya: “Maukah kalian aku tunjukkan dosa-dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar?” Para sahabat menjawab: “Baiklah, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “Yaitu, mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. “Ingatlah ucapan dosa dan saksi palsu” Rasulullah mengulang-ulanginya, sampai-sampai para sahabat berkata: “Semoga beliau lekas berhenti” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain disebutkan
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : جاء رجل إلى رسول الله ص م فقال : يا رسول الله ! من أحق بحسن صحابتى ؟ قال : "أمك" قال : ثم من ؟ قال : " أمك" قال : ثم من ؟ قال :" أمك " قال : ثم من ؟ قال : " أبوك". رواه البخارى
Artinya : Hadis dari Abu Hurairah ra. Berkata : “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah”, kemudian bertanya : “ Wahai Rasulullah”, siapa orang yang lebih berhak untuk dihormati, Rasulullah menjawab : “ Ibumu”, kemudian bertanya lagi : “ kemudian siapa”,  Rasul menjawab : “ Ibumu” kemudian bertanya lagi: “ kemudian siapa “, Rasul menjawab: “ Ibumu”, kemudian bertanya lagi : “ kemudian siapa “, Rasul menjawab :    “ Bapakmu

3.         Menamakan Rasa Berterima Kasih (Bersyukur )

Aspek pembinaan kelaurga yang diajarkan oleh surat Luqman pada ayat diatas mengajarkan untuk menumbuhkan sikap syukur. Yaitu bersyukur kepada Allah atas segala yang Allah berikan sewaktu dalam kandungan maupun perlngkapannya selama hidup, dan juga bersyukur kepada orang tua yang telah membimbing hingga tumbuh dewasa.
Syukur artinya berterima kasih kepada Allah. Manusia telah banyak diberi nikmat oleh Allah swt. nikmat yang Allah berikan kepada manusia tak mungkin dapat dihitung karena tak sanggup mnusia untuk menghitungnya. Syukur tiak hanya diucapkan dengan kata-kata saja, seperti mengucapkan terima kasih ataupun al hamdulillah, namun sykur adalah bukti seseorang menjalankan keimanan kepada Allah, maka seluruh anggota tubuh pun mensyukuri.
Cara bersyukur kepada Allah ada tiga: (1) bersyukur dengan hati, iaitu mengakui dan menyedari sepenuhnya bahawa segala nikmat yang diperolehi berasal dari Allah SWT dan tiada seseorang pun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat itu; (2) bersyukur dengan lidah, iaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimah al-hamd li Allah (segala puji bagi Allah); dan (3) bersyukur dengan amal perbuatan, iaitu mengamalkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama.Yang dimaksud dengan mengamalkan anggota tubuh ialah menggunakan anggota tubuh itu untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridai Allah SWT, sebagai perwujudan dari rasa syukur tersebut. 
Allah telah memerintahkan syukur di beberapa tempat dalam Al Qur'an. Seperti dalam firman-Nya;
وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"Dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah." (QS. An Nahl: 114)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS. Al Baqarah: 152)
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan." (QS. Al Ankabut: 17)
Allah telah menggabungkan syukur dengan iman. Dia mengabarkan tidak ada alasan untuk mengadzab hamba-Nya jika mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya.  Allah Ta'ala berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
"Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (QS. An Nisa': 147)
Adapun cara bersykur kepada Allah  adalah sebagaimana diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai berikut  yaitu:
a.       Syukur dengan Hati.
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah” (QS. An-Nahl: 53)  Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana' (pujian) kepada-Nya.
b.      Syukur dengan Lisan.
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah).Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah.
Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya. “Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan.Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah S.W.T, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah.
c.       Syukur dengan Perbuatan.
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya”(HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
d.      Menjaga Nikmat dari Kerusakan.
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Allah S.W.T menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya:“ Artinya“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
4.         Kewajiban anak terhadap orang tua

Anak memilki kewajiban dalam keluarga. Sebagai anak wajib menghormati orang tua termasuk menjalankan perintahnya. Orang tua yang baik pasti akan mengajarkan kepada anaknya dengan hal-hal yang lebih baik. Namun jika orang tua mengajak kemusyrikan maka sang anak harus menolaknya.   Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir “Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..”
Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad. Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” 
Bentuk Kewajiban berbakti kepada Orang Tua tidak hanya ketika orang tua masih hidup, tetapi juga  ketika  orang tua  telah meninggal dunia anak harus tetap berbakti kepada orang tua :
Ketika Orang Tua masih hidup antara lain :
1.         Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, dan masalah lainnya. Dengan catatan saran tersebut sesuai dengan ajaran Islam.
2.         Menghormati dan memuliakan keduanya dengan kasih sayang dan terima kasih atas jasa-jasa keduanya yang tidak mungkin dinilai dengan apapun.
3.         Membantu ibu bapak secara fisik dan material. Rasulullah menejelaskan bahwa orang tua lebih-lebih ibu harus mendapatkan prioritas utama untuk dibantu dibandingkan dengan orang lain.
4.         Hendaklah selalu berupaya  mendapatkan keridhaannya.
5.         Jangan sekali-kali mengungkit kebaikan yang telah diperbuat terhadapnya, sebab kebaikan yang diperbuat tak sebanding dengan kebaikan yang telah dicurahkannya.
6.         Jangan pergi tanpa seizing orang tua, kecuali bepergian untuk mendatangi kewajiban.
Ketika Orang Tua Telah meninggal dunia antara lain :
1.         Menyelenggarakan jenazahnya dengan sebaik-baiknya (Memandikan, mengkafani, menyolati, dan menguburnya).
2.         Melunasi hutang-hutangnya (Hutang dengan manusia maupun hutang dengan Allah ) seperti Shalat, Zakat, Puasa dan Hajji kalau sudah mampu.
3.         Melaksanakan wasiatnya,
4.         Meneruskan silaturrahmi yang dibinanya sewaktu masih hidup, 
5.         Memuliakan sahabatnya,
6.         Mendoakannya (diwaktu masih hidup maupun setelah meninggal dunuia)

  1. KESIMPULAN
Setelah mempelajari kedua ayat diatas maka dapat disimpulan bahwa
1.      Dalam pembinaan keluarga orang tua sangat penting peranannya terutama dalam mendidika anak-anaknya supaya menjadi anak yang baik
2.      Dasar pembinaan keluarga adalah keimanan dan ketaqwaan yang bersumber dari wahyu wahyu Allah dan had   is Rasulullah SAW.
3.      Menghormati kedua orang tua adalah bagian dari pelaksanaan menuju keluarga yang bahagia. Untuk itu Allah berwasiat agar manusia memulyakan dan menghormati orang tua
4.      Manusia diberi kewajiban untuk bersyukur kepada Allah atas segala fasilitas dalam kehidupan yang diberikan dan juga bersykurur kepada orang tua yang telah merawat dan membimbingnya
5.      Manusia tetap wajib menghormati kedua orang tuanya mesikipun orang tuanya kafir. Dan wajib menolak perintahnya jika perintah itu untuk melakukan perbuatan kemusyrikan
6.      Bahwa dalam dunia pendidikan pendidikan keluarga adalah hal yang sngat penting karena itu perlu ada materi yang berlandaskan azas kekuargaan, gotong royong, kebersamaan, saling menghormati, hormat kepada orang yanglebih tua, serta bergaul dengan baik terhadap siapapun  








DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,. Nurwajdah, E,Q,  Dr., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, hati yang selamat hingga kisah Luqman, Marja, Bandung, 2007,
Al bani, Muhamad nasarudin, Derajat hadis dalam tafsir Ibn Kastsir, Pustaka Azzam, Jakarta 2008
Al Wahidi, Asbab Nuzul al- Qur’an,  Beirut Dar al Kutub al Ilmiyah,
Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah
Shihab,  M. Quraish, Tafsir Al Mishbah  Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al Qur’an, Jakarta, Lentera Hati, 2010
Shihab,  M. Quraish,  Dr.  Membumikan Al Qur’an, Mizan, Bandung, 1993,


[2] Dr. M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an, Mizan, Bandung, 1993, hal. 253
[6] Nurwajdah Ahmad, E,Q, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, hati yang selamat hingga kisah Luqman, Marja, Bandung, 2007, hal. 154
[7]  Nurwajdah Ahmad, E,Q, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, hati yang selamat hingga kisah Luqman, .... hal. 155
[8] Al Wahidi, Asbab Nuzul al- Qur’an,  Beirut Dar al Kutub al Ilmiyah, hal. 357-358
[9]  M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah  Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al Qur’an , Jakarta, Lentera Hati, 2010, hal.299
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah  Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al Qur’an, hal 300
[11] Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAPSI ICONIK KKG PAI JAWA TENGAH

Contoh PAI BTQ MAPSI

Pendekatan Saintifik dalam perspektif al Quran